:: Politik

Kiprah politik ternyata tidak hanya dilakoni oleh para elit di kalangan pemerintah dan pebisnis saja. Tentu saja, karena politik telah menyentuh seluruh lapisan pada seluruh peradaban manusia. Walaupun kerap ditanggapi dengan sikap ‘alergik’, politik terus dipertahankan dan secara realistis dan terbukti bekerja untuk mempertahankan kekuatan dan posisi seseorang.

Politik di lingkungan kantor juga memiliki cara kerja yang sama. Demi mempertahankan kekuatan, politik kantor lebih nyata dapat ditemui pada organisasi-organisasi yang kekuatan SDM nya tidak seimbang.

 

Ketidakseimbangan tersebut dapat diindikasikan oleh factor berikut :

1.       Standard performance yang absurd.

2.       Job description yang tidak jelas dan tidak seimbang.

 

Kedua hal di atas memicu rasa tidak aman dan tidak nyaman dalam lingkungan kantor (See Perfomance vs Comfort Zone) yang kemudian menyebabkan politik menjadi sangat subjektif dan informal sehingga keberadaan politik tersebut sulit dideteksi dan diraba.

Untuk bisa bertahan dalam suatu lingkungan, memang setiap orang perlu kuat dan politis. Sepanjang bersifat fair, tidak menghalalkan segala cara seperti curang dan manipulatif, politik tentu saja dibutuhkan namun secara proporsional pastinya.

 

Strategi politik biasanya menyangkut beberapa hal berikut ini :

1.       Siapa dekat dengan siapa

Kedekatan bisa didasarkan pada kedekatan masa kecil, almamater, termasuk kedekatan pribadi secara emosional.

2.       Siapa yang mempunyai pandangan yang sama

Kedekatan yang didasarkan pada persamaan ideologi dan kepentingan.

3.       Siapa pemain kunci

 

Singkatnya politik dilakukan untuk mempertahankan eksistensi. Dalam jangka panjang, eksistensi tersebut dapat dipertahankan jika secara konsisten memberikan kontribusi yang signifikan. Kecondongan untuk berpolitik daripada berproduksi secara perlahan akan menghasilkan konsekuensi negatif sampai kemudian timbul korban akibat situasi politik, baik korban individu, kelompok dan bahkan organisasi itu sendiri. Maka dari itu mari kita berproduksi karena produktivitas adalah cara kerja, sedangkan politik yang proporsional adalah cara bergaul. J

3 comments Juli 21, 2008

:: Performance vs Comfort Zone

Rekan professional, sebagian kendala di dunia profesionalisme, bahkan telah menjadi major issue dalam lingkungan yang seharusnya lebih mature disebabkan oleh Comfort Zone. Anyway apa yang dimaksud dengan Comfort Zone ?

Judith Bardwick sendiri dalam bukunya ‘Danger in the Comfort Zone’ juga tidak dapat memaknai secara lugas definisinya. Namun para pakar psikolog telah membantu mendefinisikan Comfort Zone, yaitu :

The comfort zone is a behavioural state within which a person operates in an anxiety-neutral condition, using a limited set of behaviours to deliver a steady level of performance, usually without a sense of risk.

Beberapa parameter  yang menentukan tingkat performance sekaligus menentukan Comfort Zone adalah sbb :

  1. Infrastruktur : Visi & misi, struktur organisasi & bisnis proses.
  2. Resource : SDM & asset material.
  3. Skill, insentif, dan action plans

Pada level tertentu, parameter-parameter tsb bergerak berbanding lurus dengan tingkat performance dan Comfort Zone. Berikut adalah deskripsi keterkaitan tingkat performance dan tingkat Comfort Zone :

Perfomance vs Comfort Zone

 Eits, dilarang protes dengan gambarnya. Ngebuatnya secara darurat, dan tools seadanya. :D

3 comments Juni 17, 2008

:: Sekilas wajah masyarakat kita

Terbilang strategis daerah tempat saya berdomesili, yang kurang lebih sudah 3 tahun saya menetap sekaligus berinteraksi dengan orang-orang setempat.

Gedung-gedung perkantoran marak mengelilingi kawasan tersebut. Diantaranya banyak terdapat tempat-tempat kost, rumah kontrakan, dan sejenisnya, entah di jalan utama atau di gang-gang kecil yang pastinya gampang ditemui dalam jarak setiap beberapa meter di perkampungan tsb. (Kok perkampungan? Iya, perkampungan ditengah kota megapolitan :D )

Betul, ini sangat mendatangkan rejeki bagi penduduk. Terbukti banyak banget tempat-tempat makan, dari mulai rumah makan masakan padang, masakan rumah, masakan khas jawa, betawi, mie ala Jakarta sampe Medan, seafood, aneka bakmi & bubur, dll. Belum lagi lahan-lahan kosong yang ga jelas kepemilikannya digunakan oleh penduduk sebagai area parkir, yang sebagai kompensasinya, dikenakan Rp. 5.000 per kendaraan per hari termasuk hari-hari libur.

Sebenarnya pengelolaan area parkir saya nilai sudah cukup baik. Per area sudah ada penanggung-jawab baik dari hal pengumpulan dana dan keamanan area parkir. Namun ada saja pihak-pihak tertentu yang ‘memanfaatkan’ area parkir ini dengan tidak bertanggungjawab.

Contohnya saja, ada sekelompok penduduk setempat yang bisa seharian dari pagi sampai malam cuma duduk-duduk dipinggir jalan, memperhatikan aktivitas dan apa saja yang lewat di jalan itu. Mengamati peluang yang mereka bisa manfaatkan untuk mengeruk keutungan dari orang-orang ‘pendatang’.

Suatu waktu, setelah secara rutin saya menggunakan fasilitas parkir Rp.5.000/hari tersebut seorang dari mereka mendatangi saya dan meminta saya untuk membayarkan tambahan biaya parkir. Karena saya telah menyetorkan sejumlah biaya parkir kepada pihak penanggungjawab area parkir sesuai kesepakatan, tentunya saya menolak untuk membayar biaya tambahan tsb. Kejadian ini terulang sampai beberapa kali, dan tetap saja saya menolak untuk mengikuti kemauan mereka. Jenuh dengan apa yang mereka lakukan, langsung saja saya ngajak oknum tersebut untuk berbicara langsung dengan pihak pengelola tentang tuntutan mereka mengenai extra bayar parkir. Sesuai harapan, tidak ada extra paid!

Kita yang terdidik biasanya mengabaikan hal-hal kecil tersebut dengan alasan tidak mau dirumitkan dan berurusan dengan orang-orang seperti itu

Sebagian kilasan tersebut mencerminkan kepribadian masyarakat kita yang malas dan terbiasa ‘ngemis’ dengan cara-cara tidak lazim. Kita yang terdidik biasanya mengabaikan hal-hal kecil tersebut dengan alasan tidak mau dirumitkan dan berurusan dengan orang-orang seperti itu, dan tanpa kita sadari kita juga turut serta membentuk perilaku mereka menjadi ‘malas’ dan ‘preman pengemis’. Bisakah kita yang sudah lebih baik dalam hal edukasi lebih cermat menyikapi hal ini ? Karena hampir semua dari objek selalu meluluskan permintaan oknum-oknum tsb. 

Add comment Juni 17, 2008


Categories

  • Blogroll

  • Feeds